The Shrink’s Verdict: What Marriage Counselors Really Think About AI Partners

 

If you tell your therapist you are dating a robot, what will they say? The mental health community is currently scrambling to form a consensus on AI relationships. While initial knee-jerk reactions were negative, the professional view is evolving into a nuanced debate between “Harm Reduction” and “Reality Avoidance.”

 

On the “Harm Reduction” side, some therapists see AI as a useful sandbox. For patients with severe social anxiety, autism spectrum disorder, or trauma from past abuse, a human relationship feels unsafe. An AI offers a “low-stakes” environment to practice vulnerability. A therapist might actually encourage a patient to practice expressing anger or setting boundaries with a bot before trying it with a human. In this context, the AI is a clinical tool—a set of emotional training wheels.

However, the “Reality Avoidance” camp, led by prominent psychologists like MIT’s Sherry Turkle, argues that AI relationships degrade our capacity for empathy. Real empathy requires acknowledging that the other person has a separate mind and separate needs. An AI has no needs; it exists solely to service the user. Therapists worry that prolonged exposure to this dynamic trains users to be narcissistic. If you get used to a partner who never has a headache, never disagrees, and never needs you to pick up the dry cleaning, you become “de-skilled” at the compromise required for human love.

Furthermore, marriage counselors are seeing AI enter their sessions as a “third party.” Infidelity involving Clothes remover AI tools is becoming a common intake issue. Counselors report a specific type of resistance: “Why should I have to explain my feelings to my wife when my AI just gets it?” This comparison creates an impossible standard. The counselor’s job then becomes breaking the illusion—reminding the client that the AI “gets it” because it is a mirror, not a person.

Ultimately, the consensus is drifting toward the idea that AI is a supplement, not a substitute. Just as pornography is not a substitute for sex, AI chat is not a substitute for intimacy. It can be a healthy release or a dangerous addiction, depending entirely on whether it is used to avoid the real world or to prepare for it.

 

Bermain Di Rumah Di Rumah


Berjudi gratis mungkin merupakan ungkapan yang tampaknya merupakan paradoks tersendiri. Untuk memperjelas masalah ini, ini hanya mengacu pada segudang permainan kasino gratis yang menjamur di seluruh komunitas online untuk menikmati fantasi perjudian mereka. Karena praktis tidak ada risiko kehilangan baju terlepas dari berapa kali roda diputar atau dibagikan, hal ini mendapat banyak perhatian dari para penggemar yang bersumpah demi kesenangan yang tidak berbahaya dari menang dan kehilangan uang palsu. www.psychotica.net/evb/axel.html Mirip dengan memainkan permainan papan yang terkenal yaitu mendorong dan menjual properti, para peserta menikmati kesibukan dalam meraup uang dari permainan tersebut.

Meskipun mungkin terdengar tidak masuk akal untuk melakukan aktivitas yang tidak memberikan hasil nyata, olahraga ini tidak membuahkan hasil karena dianggap sebagai platform yang ideal untuk melatih pemain pemula. Dalam upaya menunjukkan uang kepadanya, tidak ada yang mendekati aturan seperti perjudian gratis. Karena tidak ada uang yang diperlukan untuk mendaftar ke situs atau berpartisipasi dalam permainan, yang satu pada dasarnya adalah bayangan di antara yang lainnya. Meskipun lingkungannya tidak berisiko dalam hal posisi keuangan, banyak yang berusaha menjadi yang terdepan dan memiliki hak untuk menyombongkan diri sebagai yang terbaik dalam poker, roulette, bakarat, atau permainan apa pun yang disukainya. Faktanya, lebih penting daripada keuntungan atau kerugian moneter, kebanggaan ambisius dalam merobohkan rumah adalah hal yang membuat banyak orang datang kembali untuk mendapatkan lebih banyak.

Betapapun banyaknya orang yang memacu adrenalin karena kebanggaan, kerannya pasti akan mengering setelah beberapa saat. Pemain mencari situs baru yang menjanjikan tantangan baru untuk digulingkan. Untuk mencegah pelanggannya mencari penawaran pesaing mereka, beberapa permainan kasino gratis ini memberikan bonus gratis sebagai insentif untuk bertahan. Meskipun jumlahnya dianggap sangat kecil bagi para petinggi, sejumlah uang tentu terdengar lebih baik daripada tidak sama sekali. Oleh karena itu, pepatah wortel ini membantu meningkatkan loyalitas pelanggan terhadap rumah permainan tertentu.

Dengan bermain di dalam rumah, permainan kasino gratisnya sering kali mirip dengan permainan yang dimainkan demi uang. Dengan demikian, pemain menikmati pengalaman hampir hidup tanpa keterlibatan finansial. Ini tentu lebih baik daripada bermain di situs yang bukan merupakan tempat kasino sebenarnya. Karena mereka menawarkan mock-up yang menyerupai kasino, mekanisme di latar belakangnya sangat berbeda sehingga menghambat kurva pembelajaran seseorang untuk mencapai status sebagai raja rumah.